18 Februari 2012

Sastra Rusia? :o


"Kenapa ambil jurusan Sastra Rusia? Rusia itu Uni Soviet! Mau jadi komunis ya?!"


"Kok Sastra Rusia? Hati-hati loh, Rusia itu ateis!" 

"Lah, anak Rohis kok ambil Sastra Rusia? Haha. Kalau Sastra Arab nah itu, masih cocok" 

"Hahaha, Sastra Rusia? Selamat! Itu mah kamu pasti bakal langsung masuk)))" 

"Wah? Sastra Rusia? Prospek kerjanya emang itu kayak gimana? Mau jadi apa ntar setelah lulus?"

"Sastra Rusia? Emang ada ya? Baru tahu :o"


Kurang lebih, begitulah komentar-komentar miring dari orang-orang sekitar saya, ketika saya ditanya tentang jurusan yang saya inginkan, yang saya pilih, yang saya perjuangkan, hingga akhirnya, saya dapatkan juga saat ini. Гммм.

Kadang ingin saya jelaskan kepada mereka, sejelas-jelasnya. Tapi, saya pikir, belum saatnya. Atau saya jawab sekedarnya saja, asal mereka berhenti berkicau. Tokh, yang bertanya atau berkomentar pada saya, bukanlah bocah biasa, melainkan orang yang lebih tua dari saya, guru-guru saya, hingga kawan dari orang tua saya. Khawatir akan menyinggung perasaan mereka, dengan kata lain, disangka mengajari mereka. Ya sudahlah :]

Meski begitu, ada juga beberapa orang yang berkomentar positif, seperti, 

"Waw! Sastra Rusia! Hebaaat!"

"Aih, Sastra Rusia? Ntar kalau ke Rusia, ajak-ajak dong!" 

"Bagus itu. Belum banyak orang yang mau memelajari tentang Rusia"


Entah mereka berkomentar asal ceplos, sekedar memberi semangat, atau memang berkata sesuai apa kata hatinya. Никто не знает :o

Tapi melalui tulisan ini, akan saya uraikan sedikit apa yang saya pikirkan tentang Sastra Rusia, seperti yang selalu om Zuckerberg tanyakan setiap hari.Dimulai dari pertanyaan:"kenapa Rusia?", meski tidak ada di daftar pertanyaan di atas (karena yang di atas itu lebih fokus ke Sastra Rusianya). Menjawab pertanyaan ini lebih sulit dari pada menjawab kenapa saya memilih jurusan Sastra Rusia. Karena, saya sendiri tidak begitu yakin untuk jawaban dari saya yang paling cocok untuk pertanyaan tersebut. Saya suka Rusia, bukan karena lagu popnya, bukan karena boybandnya (eh, anu... emang di Rusia ada boyband? :o), bukan pula karena disogok Bupati (eh?) (yang terakhir itu paling nggak mungkin).

Rusia, bagi saya bagaikan objek cinta yang datang tiba-tiba. Seakan, Rusia, Rusia, begitu saja datang ke pikiran saya, dan segala yang berbau Rusia selalu menarik bagi saya.
"Iya, tapi apanya yang paling saya sukai?"
 Hmmm, jika sudah dipaksa untuk menjawab seperti ini, tentunya saya akan jawab sekenanya; bahasanya, sejarahnya, budayanya.
Bahasa Rusia, sejak pertama kali melihat huruf Kiril (кириллица) di salah satu opsional bahasa di game house, saya langsung tertarik untuk mencari tahu bahasa apa itu. Dan ketika mencoba mencari di internet, agak susah juga mendapat sumbernya, apalagi sumber pemelajaran dengan bahasa pengantarnya bahasa Indonesia. Sejak saat itu, dengan kemampuan bahasa Rusia yang sangat terbatas, saya isi juga blog serabutan saya (ahdoy.blogspot.com) mengenai bahasa ini.
Pertama kali tertarik terhadap sejarah Rusia, mungkin, sejak SMA. Soalnya, ketika SMP, saya tergila-gila dengan sejarah NAZI-Jerman, pada saat Perang Dunia II. Tapi semakin sering saya baca tentang sejarah Rusia, ditambah lagi dengan kebosanan saya terhadap sejarah Jerman (yang pada akhirnya saya akui kalau Jerman memang kalah telak oleh Uni Soviet pada saat Perang Dunia II), membuat saya tertantang untuk memperdalam pengetahuan tentang sejarah Rusia.
Budaya Rusia, mungkin ini yang paling-paling-paling saya suka. Dari musiknya (yang pertama kali saya dengar adalah lagu "Kalinka"), menurut saya - unik! Dan lagi, di bidang seni rupa, saya baru tahu boneka yang disebut matryoshka itu juga kesenian khas Rusia. Tarian kolektifnya yang asik dilihat, kemudian film-film animasinya yang unik, membuat saya merasa aroma baru dalam menikmati film animasi.

Setelah terjawab pertanyaan dasar tersebut, maka tentunya akan lebih mudah untuk menjawab pertanyaan: Mengapa memilih Sastra Rusia? :]

Sejak SMA kelas XI, saya sudah yakin akan mengambil jurusan Sastra Rusia. Entah apa yang saya pikirkan, tapi itulah kemauan saya - haus akan keingintahuan tentang Rusia :]Kemudian, apa pendapat saya tentang tuduhan Rusia itu komunis? Ateis? Dan pendapat miring lainnya yang dijabarkan di atas?
ну (dibaca: nu), wahai kawan-kawan seluruh dunia! Ketahuilah kalau Rusia itu bukan lagi Uni Soviet. Uni Soviet itu komunis - ya! Tapi Federasi Rusia itu bukan lagi negara komunis. Lagi pula, apa salahnya dengan komunis? Sejak SMA saya memang tergila-gila untuk berdiskusi tentang ideologi yang dianggap haram di Indonesia ini. Yang saya tahu, komunis itu ideologi yang mewujudkan masyarakat tanpa kelas demi kesejahteraan bersama - apa salahnya?
Tapi, tentu saja, bukan karena Rusia itu komunis, kemudian saya masuk Sastra Rusia. Karena saya benar-benar tahu kalau Rusia itu bukan lagi negara komunis.
Tentang ateis. Apa hubungannya Ateisme dengan Komunisme? Ateisme =/= Komunisme. Ateis itu tentang keyakinan manusia terhadap ketiadaan tuhan. Sedangkan komunisme itu tentang sistem ekonomi terpusat. Yah, walau, memang, di Uni Soviet dulu, kegiatan agama dilarang dilaksanakan dengan alasan X. Tapi, saya kira, Tan Malaka juga komunis? Haji Misbach juga komunis? Bahkan Ir. Soekarno -bisa dibilang- pro komunis, dengan ajaran NASAKOMnya, dengan menganak-emaskan PKI. Tapi Apakah mereka ateis? - Sudah saya bilang, Ateisme =/= Komunisme. Ya tho? Dan, toh, orang dewasa harusnya sudah bisa memilih mana yang baik dan buruk, dan pilihan buat dirinya.

Dulu memang, saya ikutan organisasi Rohis. Tapi, apa salahnya memelajari Rusia?Barangkali saya mau menyebarkan Islam di Rusia? Oh, tidak, tidak. Bahkan dulu saya tahu, Rusia itu punya masjid terbesar di Eropa (Masjid Kul Sharif/Qul Syarif) yang letaknya di kota Kazan. Jumlah Muslim di sana juga terbesar kedua, setelah penganut Kristen Ortodoks. Dan, dalam pandangan saya, alumni Rohis, kalau ambil sastra, ga mesti lah masuk sastra Arab. Kalau memang mau, ya silakan. Tapi kalau mau ambil sastra Rusia, apa salahnya? Lagi pula Islam memangnya cuma punya Arab doang? :o

Pilih Sastra Rusia - langsung masuk? Masuk Sastra Rusia itu gampang? Kata siapa? Kalau memang belum hoki mah ya tetap saja nggak masuk. Saya waktu itu ikutan SIMAK UI ambil Sastra Rusia, tapi ternyata nggak masuk. Masih penasaran, saya coba mengajukan BidikMisi ke UNPAD dengan pilihan Sastra Rusia, masih belum masuk juga. Masih penasaran, saya coba ikut lagi SNMPTN, ambil Sastra Rusia UI dan Sastra Rusia UNPAD. Nah, baru tuh, hoki, dapat Sastra Rusia UI. Terserahlah Kuliah di mana, yang penting mah Sastra Rusia. Di Subang juga kalau emang ada, saya pasti akan coba daftar juga tuh di Subang. Intinya, ga ada yang namanya gampang. Perlu usaha, kerja keras. Apa? Ya belajar. Emang saya belajar? Hihi. Yah, walau di sekolah SMA saya malas-malasan belajarnya, tapi kalau udah urusan ginian mah, sebenci apapun sama m@tfi$kim, atau pelajaran apapun, pasti saya usahain untuk dipelajari juga tuh :P

OK. Saya sudah dapat apa yang saya mau. Lalu, pertanyaan pamungkas, yang paling sering ditanyakan oleh orang lain, baik itu orang tua, tetangga, guru-guru, dan terutama - adik kelas! Setelah lulus, mau jadi apa? atau Prospek kerjanya gimana tuh?. Mungkin jurusan saya ini agak berbeda dengan jurusan yang sudah 'pasti' dan mudah ditebak akan jadi apa nantinya. Jurusan kedokteran - jadi dokter. Jurusan Kedokteran Gigi - jadi dokter gigi. Jurusan Akuntansi - jadi akuntan. Kalau jurusan saya? Dan sastra-sastra lainnya? Dan mungkin juga serupa dengan jurusan semacam Sejarah? Filsafat? Mau jadi apa setelah lulus kuliah? :o

Begini, saudara-saudari, товарищ semuanya... Mungkin jawaban saya akan sangat tidak memuaskan. Tapi inilah yang saya pikirkan; Setiap jurusan / program pendidikan yang disediakan di universitas-universitas tentunya diadakan, karena negara kita -yang tengah ringkih ini- membutuhkan lulusan-lulusan dari bidang tersebut untuk negara. Tentunya, di mata saya, tidak ada yang namanya jurusan yang prestisisususwasusus. Semua sama. Semua disesuaikan dengan minat dan bakat para mahasiswa dalam mengkaji ilmu yang digelutinya.

Adapun bagi orang yang berambisi dan mati-matian, dan segala cara untuk mendapatkan jurusan tertentu yang belum tentu ia bisa menjalaninya, tapi menurutnya itu jurusan prestisius, prospek kerjanya jelas, dan bisa menjaminnya hidup sejahtera setelah lulus kuliah, bagi saya, itu mah, nonsen-lah. 

Kembali ke... laptop! :mukatukul:

Lalu, bagaimana? Memang kenyataannya, prospeknya belum jelas kan?
Lah, memang ada yang bisa menjamin semua mahasiswa kedokteran, maka semuanya bakal jadi dokter? Nggak juga. Paling yang punya kualitas tinggi yang bisa jadi dokter. Malah ada juga yang lulusan kedokteran malah jadi artis :o Juga, terlebih lagi, kalau dia DO, mana mungkin bisa jadi dokter? Yah, berkata demikian, karena saya tahu, kalau nggak semua orang bisa nyaman di satu bidang yang memang tidak diminatinya. Ini saya pake contoh kedokteran, bukan karena anu atau apa-apa lho. Sekedar contoh saja. Спокой~ :]

Jadi, intinya, jurusan tidak menjamin 100% kesuksan. Melainkan, kembali lagi kepada orangnya.

Lulusan Sastra Rusia dan juga dengan jurusan yang dianggap masa depannya belum jelas, tentunya punya peluang sama dengan jurusan yang dianggap sudah jelas masa depannya (masa depan yang jelas? :o Hihihi. Mami Loren kali). Bedanya, setiap lulusannya dituntut untuk lebih kreatif dalam mengembangkan diri. Dan mungkin, sedikit imajinasi. Kenapa? Karena memang, kalau lurus-lurus saja, masih menggunakan perspektif kalau kuliah Sastra Rusia mesti kerja di bidang Rusia, bakal sulit juga. Kerja di Deplu? Kedubes Rusia? Pusat Kebudayaan Rusia? Saya kira, kalau satu angkatan Sastra Rusia mesti kerja di situ semua, bakal ribet juga. Masalahnya, institusi di bidang kerusiaan sangat sedikit jika dibandingkan dengan Rumah Sakit-Rumah Sakit yang bisa dipakai untuk kerja bagi lulusan kedokteran -lagi-lagi kedokteran, maaf. Di bidang pariwisata pun memang agak sulit karena orang Indonesia masih mengutamakan orang yang jago berbahasa Inggris dibandingkan dengan spesial bahasa asing yang khusus, seperti Rusia, Jerman, Perancis, dsb., misalnya. Meski faktanya, wisatawan Rusia di Bali lumayan akeh tenan.

Beruntung saya kenal sosok Pak Fadli Zon (meski sepertinya, Pak Fadli Zon tidak kenal saya, hehe), ketika beliau mengajar di kelas Mata Kuliah Sejarah & Pranata Uni Soviet sampai Federasi Rusia semester 2 lalu. Selain mengajarkan materi yang memang harus dipelajari, beliau juga mencoba mengajak kami untuk melihat sisi lain di dunia, baik regional maupun internasional. Lain dari pada itu, beliau juga sering memotivasi kami, mahasiswa Sastra Rusia UI untuk tidak merasa minder, malah harus selalu PD menjadi mahasiswa Sastra Rusia.Dalam seminar Hubungan Indonesia - Rusia tahun lalu, seorang audience bertanya kepada para pembicara, yang salah satunya adalah Pak Fadli Zon. Pertanyaannya adalah -kurang lebih- "Bagaimana nasib para mahasiswa Sastra Rusia setelah mereka lulus?". Mungkin target dari pertanyaan ini maksudnya agar pejabat pariwisata serta para dosen bisa menjalin hubungan khusus, sehingga para lulusan tidak sulit jika ingin bekerja di bidang kepariwisataan.
Tapi saya paling suka jawaban dari Pak Fadli Zon, dibandingkan jawaban pembicara lainnya yang hanya menjawab dengan janji yang kesannya hanya sekedar wacana tanpa realisasi. Kata Pak Fadli Zon, "Terserah kalian mau jadi apa". Hal ini mungkin tampak lucu, tapi sebenarnya logis lho. Ya, nasib kita memang terserah kita, terserah kemauan dan usaha kita.
Mau bekerja di bidang jurnalistik, bisa. Karena di Sastra Rusia, kita belajar tentang Sastra dan Masyarakat.
Jadi politikus, seperti pak Fadli Zon (beliau aktif di Partai Gerindra), bisa, karena kita juga belajar Sejarah Rusia, dari zaman Tsar sampai Federasi Rusia, yang tak terlepas dari huru-hara politik yang mendominasi sejarah bangsa Rusia. Dan tentunya, bisa dijadikan perbandingan serta pemelajaran untuk politik di Indonesia. Sadar atau tidak, Rusia itu punya banyak kemiripan dengan Indonesia, sama-sama multi etnis, multi kultur, multi agama, pernah hampir bangkrut / krismon dan banyak hutang. Bedanya, Rusia di bawah Vladimir Putin bisa melunasi hutang-hutangnya, sedangkan Indonesia, ya, beginilah :]
Jadi ekonom, lagi-lagi seperti Pak Fadli Zon (beliau juga Ketua Perhimpunan Tani Indonesia), yang waktu seminar, beliau cerita kalau dirinya punya perusahaan yang para pekerjanya adalah ahli teknik lulusan dari universitas-universitas ternama di Indonesia. Ya, para ahli teknik, yang bekerja kepada seorang lulusan Sastra Rusia.
Jadi apapun lah, yang kalian mau. Jadi dosen mah geus puguh, bisa, hehe. Dan lagi, dari yang saya amati, dosen Sastra Rusia jumlahnya sedikit. Belum lagi lembaga pendidikan non-formal yang mau buka kursus bahasa Rusia, masih sangat-sangat sedikit. Ladang usaha tuh, kalau memang mau. Toh, Rusia sudah mulai banyak dikenal sekarang ini, baik di berita-berita TV atau koran, juga dari komentar-komentar pengunjung yang nyasar di blog saya, hehe.

Langsung pada kesimpulan saja, karena kalau diteruskan, sepertinya tulisan ini tidak ada habis-habisnya. Dan, tentunya, kalian yang nyasar di catatan saya ini, sepertinya sudah bosan, atau mungkin sudah menutup browsernya sebelum baca sampai bagian ini)))

"Janganlah mencoba menjadi orang sukses. Jadilah orang yang bernilai."
[Albert Einstein]

Mungkin itu kata-kata pamungkas yang cocok untuk menutup tulisan ini. Dan satu hal lagi:

"Saya bangga dan bahagia menjadi Mahasiswa Sastra Rusia! УРААААА!"






Sedikit pesan dari saya, khususnya buat rekan-rekan seperjuangan, juga terutama adik-adik kelas/angkatan; kalau memang dapat jurusan yang diminati, jangan disia-siakan. Belajar yang rajin. Ini kata-kata, buat saya juga lho. Itung-itung instropeksi diri, gara-gara dapat nilai buruk semester kemarin, fiuh :\
Kalau masih belum yakin, yakinin saja. Gampang kan? Hehe.
Tapi bagi yang masih galau milih jurusan, usahakan pilih yang sesuai bakat dan minat kalian. Usahakan jangan milih jurusan anu karena disuruh ortu. Pengalaman saya, kalau anak sudah tertekan ketika memelajari suatu jurusan ilmu tertentu, yang ada malah si anak berontak, tertekan, dan hasil belajarnya pun pas-pasan, bahkan kurang.
Yang mau kuliah kan kalian, bukan ortu kalian. Ya tha?Yakinkanlah, bahwa semua jalan punya peluang baik kok, setidaknya peluang untuk menjadi orang yang baik, bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. (yang bagian akhir ini, seriusan nih)


Eh, anu, ini semua pendapat saya lho. Jadi, setuju tidak setuju, itu hak masing-masing. Suka tidak suka terhadap pemikiran saya tentang jurusan saya ini juga, ya hak masing-masing. Beda kepala, beda pemikiran :]

Salam damai,
Ahdoy.



Diambil dari catatan saya sendiri di FB.