26 Juli 2010

Try and Error Saya di Linux

Pernah nyoba Linux? Gimana rasanya? Asik kan?

Dulu saya waktu pertama kali migrasi dari windows ke linux, nyoba linux ubuntu dulu - atas saran dari Ryan, kawan saya. Setelah itu saya dengar ada ubuntu versi muslim namanya sabily maka saya langsung coba. Dan ternyata, setelah saya mencoba keduanya, tidak dapat dipungkiri, kedua OS yang berjalan di komputer saya yang "pas-pasan", pentium III, hardisk 20 GB dan RAM 512, fiuh.. terasa beraaat.

Setelah dipikir-pikir lagi, saya tetap ingin pake linux, saya tahu, linux bukan cuma ubuntu saja, meski saran dari teman saya, untuk pemula baiknya pakai ubuntu dulu karena mudah dan easy to use. Dari ubuntu ke sabily, lalu saya instal ulang dan pake ubuntu lagi, soalnya sabily lebih berat dari ubuntu.

Perjuangan browsing sana-sini mebuahkan hasil. Saya mampir di beberapa forum juga blog yang membahas linux. Saya kemudian tertarik dengan Damn Small Linux (DSL), yang katanya ringan, dan memang benar ukurannya hanya 50 MB! Buset, saya kira OS yang ukurannya 50 MB ini benar-benar DAMN! untuk ukuran OS yang beratnya dari 600-an MB sampai berGiga-gigaByte. Maka tanpa pikir panjang, saya download, bakar ke CD, langsung saya coba install. Wuih! Ternyata tak semudah yang saya bayangkan. Saya kira semua linux, cara instalasinya sama seperti ubuntu dan sabily, DSL ini tampaknya punya cara tersendiri untuk proses instalasinya. Saya coba lewat live CD, ckckck, tampilannya kurang menarik, dan saya kira kurang cocok deh untuk pemula mah. Perjuangan dihentikan, dan mulai booting dengan ubuntu lagi. Ckckck....

Saya coba memfokuskan diri ke blog, soalnya kalau nanya-nanya di forum, para pakarnya bisa dibilang (maaf) sombong-sombong. Bahasa yang digunakan terlalu tinggi buat pemula bahkan sering menggunakan istilah di linux yang masih asing buat saya. Beberapa pertanyaan yang menurut saya penting pun banyak yang tidak dijawab. Keur mah uing teh hayang diajar linux, ngajarkeunnana kalahka siga wadux. Sedangkan di blog, biasanya penulisnya sangat care dengan pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung blognya, dan alhamdulillah, saya menemukan harapan baru selain DSL.

Slax adalah yang kemudian menjadi pilihan saya. Slax yaitu distro linux turunan Slackware yang gambarnya daun semanggi itu, lucu, unik, dan menarik. Saya coba lebih tenang tanpa terburu-buru seperti sebelumnya. Saya masuk ke webnya, dan ternyata, hebat! Ada fasilitas penyimpanan data online, aplikasi khsus slax yang sangat lengkap, dan yang paling saya suka, meski berbahasa inggris, forumnya benar-benar rapi, setiap pertanyaan langsung dijawab dengan cepat. Saya baru tanya beberapa hal saja langsung dijawab lengkap dalam hitungan tak lebih dari lima menit. Saya langsung coba download dan bakar ke CD. Saya cek lewat live CD, wow, benar-benar asik seperti apa yang saya bayangkan. Saya langsung coba cari tahu bagaimana cara menginstalnya, soalnya slax pun punya cara tersendiri untuk menginstalnya ke hardisk. Setelah saya tahu, ternyata rada ribet menginstalnya, saya sedikit ragu untuk migrasi ke slax, tapi saya coba dulu. Sehari, dua hari, sampai seminggu, dan akhirnya, dua minggu saya coba menginstalnya, saya kira saya sudah sempat menginstal slax tersebut, hanya saja tidak bisa booting karena saya ga mudeng-mudeng menginstal grubnya, hehe. Selain itu, dengan live CD saya coba koneksikan ke internet, tak nyambung-nyambung. Perjuangan untuk menggunakan slax yang cantik nan ribet, berakhir.

Selanjutnya, saya bertemu dengan Austrumi. Distro Linux asal Latvia ini cukup unik. Saya baru tahu, ada OS yang diinstal ke RAM, jadi meski live CD, CDnya dikeluarkan pun OS tetap berjalan normal (padahal slax juga sih bisa macam begini, hanya saja harus pake cara khusus - lagi-lagi ribet). OK, saya sepertinya dah cocok dengan Austrumi ini. Tampilan menarik, aplikasi cukup asik, dan saya coba koneksikan dengan internet, tak terlalu susah, meski kadang konek kadang tidak (kemungkinannya bisa karena bug Austruminya sendiri, ataupun karena koneksi speedynya, soalnya waktu itu lagi musimnya gangguan dari server pusat). Tapi, masalah klasik muncul, saya tak bisa juga mengsintalnya ke hardisk. Cape deh, kalau harus live CD lagi, live CD lagi, - meski CDnya bisa dikeluarkan setelah booting. Eits, belum menyerah nih saya kalau sama Austrumi mah. Saya lalu mampir di blognya om Elsa. Saya tanya-tanya sama om Elsa, dan rupanya dia juga masih belum paham tentang seluk-beluk Austrumi ini, katanya beliau masih nyubi, hehehe, padahal yang saya tahu, beliau ga nyubi-nyubi amat.

Di Blognya om Elsa mungkin saya tidak mendapatkan jawaban yang saya inginkan, tapi beliau menganjurkan saya yang terbiasa pake ubuntu untuk mencoba beberapa OS linux dari beberapa distro yang bukan hanya easy to use tapi juga easy to instal! Dari beberapa yang beliau rekomendasikan, maka saya coba LM 9 LXDE yang punya nama lengkap Linux Mint 9 (Isadora) dengan desktop LXDE. Pengertian LXDE itu apa? Saya sendiri belum paham, tapi saya akui, yang namanya LXDE ini benar-benar terasa ringan dan tampilan tak kalah OK dengan yang Gnome atau KDE. Tanpa pikir panjang lagi, setelah saya tahu LM 9 LXDE ini cara instalasinya sangat mudah, seperti ubuntu karmic yang pernah saya pakai, akhirnya saya langsung download, bakar ke CD, dan instal ke kompi. Yeah! Benar-benar cool, asik, koneksi ke internet mudah, aplikasi-aplikasinya ringan, dan pokoke saya kira, saya bakal berlama-lama di LM 9 LXDE ini! :D

Tetapi masalah baru muncul. Jujur, saya tak mengerti apa yang dimaksud openbox session, atau apapun itu namanya. Yang saya tahu, saya bisa ganti wallpaper dengan cara melakukan klik kanan di desktop, dan bla bla bla. Tapi suatu saat, ketika saya klik kanan seperti biasanya, kotak yang muncul berbeda. Saya coba reboot dan masuk secara default, hasilnya nihil, seperti tadi. Saya coba masuk lagi dengan pilihan LXDE session, tapi gagal. Saya simpulkan, desktopnya sepertinya bermasalah. Saya belum tahu apa yang harus saya perbaiki dalam kasus seperti ini. Masalah kecil ini pun jadi melibatkan proses instal ulang LM 9 LXDE lagi - akibat penasaran, barangkali saya kurang apik ketika menginstalnya, hoho. OK, setelah saya instal lagi, sehari dua hari, masalah yang tadi tak muncul lagi, dan saya bisa bernapas lega.

Belum seminggu, masalah tadi malah muncul lagi, AaAaAaAaA!!!!! Bisa gila aku. Akhirnya saya tidak memedulikan hal itu lagi. Biarlah wallpaper yang itu-itu terus juga, yang penting bisa dipake kerja ni kompi. Masalah lain muncul. Saudari saya, Onya, minta dieditkan novel dan dia menulisnya di MS Word. Sedangkan di LM 9 LXDE adanya abiword. Ini masalah? Saya kira tidak. Tapi memang di abiword, pengaturan hurufnya jadi acak-acakan, ditambah ada beberapa karakter yang hilang dan footernya pun malah berubah jadi tabel nyata. Aaargh, saya kira saya tak akan bisa berlama-lama lagi di OS yang memang cantik dan ringan ini. Saya menyesal, dengan ini saya harus melepas LM 9 LXDE dari kompi saya, tok, tok - halah, siga naon wae.

Bingung dari LM 9 LXDE harus migrasi ke mana, saya balik lagi ke blognya om Elsa, dan baca lagi, OS dari distro mana yang kira-kiranya unik, menarik, tampilan cantik, tapi ringan, seringan kapas, halah. Lalu Allah seakan memberi petunjuk. OS yang bernama gOS selalu menari-nari di pikiran saya. Tanpa banyak cing-cong, saya langsung masuk ke distrowatch.com dan langsung saya cari tahu tentang gOS ini. Hmmm, lumayan menarik, tampilan sepertinya OK, aplikasi-aplikasi yang ditawarkan, sepertinya berat deh, tapi banyak blog yang mengatakan gOS ini tak seberat yang dikira. Sambil ragu-ragu saya coba download gOS ini leweat brothersoft. Waduh, lambaaaaat sekali. Saya coba cari mirror lokal, barangkali ada. Tapi tak ketemu juga, hingga hampir seharian penuh, saya sampai juga di kambing UI, dan ternyata ada! Asyik, seperti biasa, download, bakar, instal - instalnya gampang rek!

Dan..., sampai sekarang, belum ada masalah yang saya temui. Tampilan WOW! Ada cloudnya juga, ga mirip linux biasa, apalagi windows, justru bisa dibilang mirip Macintosh hohoho, tiap jalanin program, ringan, koneksi ke internet, iiih, gampang! :D 

Masalah pengeditan ketikan juga asoy, soalnya sekarang pake open office writer, tak seperti abiword yang settingan dari ms wordnya yang jadi acak-acakan, di open office writer ini pengaturan ga berubah, dan anehnya, ga seberat open office writer yang dulu ketika digunakan -tanya kenapa? Intinya, saya belum tertarik lagi untuk menggunakan distro yang lain, hehe.

Tulisan ini saya buat hanya sekedar bagi-bagi pengalaman saya dalam mencari Operasi Sistem terutama linux dari distro yang yang benar-benar cocok untuk saya dan komputer saya. Mungkin ada yang lebih cocok pake Ubuntu, Sabily, DSL, Slax, Austrumi, juga LM, tapi bagi komputer saya, dan juga saya, gOS adalah yang paling cocok. 

Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati ki sanak ketika mampir di tulisan ini. Terima kasih telah membuang-buang waktu di sini dengan membaca tulisan saya ini.




Kesimpulan dan catatan tambahan:

Ubuntu dan Sabily sebenarnya bagus, mudah digunakan, tapi karena komputer saya yang lemot ini, jadinya saya kurang cocok dengannya.

DSL, Slax,  dan Austrumi ini termasuk OS ringan. Beratnya di bawah 100 MB.  Meski ringan, jangan diangap enteng perihal kestabilannya, dan tampilannya. DSL mungkin tidak terlalu bagus tampilannya, tapi jika dioprek lagi, tema bisa dirubah sesuai selera. OS-OS ini pun karena stabil dan ringan, maka bisa diinstal di FlashDisk. Hanya saja saya belum pernah menginstal OS di FlashDisk. Mungkin kapan-kapan akan saya coba.

Linux Mint 9 LXDE benar-benar keren. Tampilannya sangat cantik dan menarik. Aplikasi-aplikasinya benar-benar enteng. Tapi seperti apa yang saya sebutkan di atas, ada beberapa alasan yang membuat saya harus meninggalkan LM 9 LXDE.

gOS benar-benar asik. Saya tak main-main bilang tampilannya mirip Macintosh. meski terkesan berat, tapi nyatanya, saya belum pernah ngalamin yang namanya hang di komputer saya sampai hari ini.

Inilah perjuangan saya, meski sekedar coba-coba alias Try and Error, juga berdasarkan rasa penasaran, akhirnya saya jadi tahu sedikit hal tentang linux.



Kumpulan link:


















Download Damn Small Linux





Website Resmi Slax

Download Slax





Website Resmi Austrumi

Download Austrumi






Website Resmi Linux Mint

Download Linux Mint

Download dari Kambing UI








JIka ada kesulitan mendownload, silakan tuliskan perihal kesulitannya di kotak komentar. (ahdoy)

4 komentar:

nuclear mengatakan...

artikelnya cukup "buang-buang waktu" untuk baca & memahaminya. ckckck. jujur. lis gak ngerti beginian. kalo baca ini malah makin ragu untuk pindah ke Linux.
fiuh ... <--- gayanya Yodha.

Dea Hambarani mengatakan...

waw...
ganti2 melulu euy..
klo pke note book bisa nggak ya nginstall nya? (secara nggak pke cd)

Ahdoy19 mengatakan...

@Dea: bisa! installnya lewat USB :)

stmik mengatakan...

Perjuangan yang melelahkan hehe, Saya bacanya juga lelah.. :)
Saya sekarang mantap di linux mint di notebook saya setelah coba ubuntu, bt4, sama fedora, tampilan sama aplikasinya udah sangat memadai..
linux mantap

Poskan Komentar

Tes Pesan Formulir Komentar