29 April 2011

Dunia - Pasca Perang Dingin

Berbagai dampak yang terjadi dalam setiap aspek kehidupan masyarakat dunia selepas perang dingin





DUNIA PASCA PERANG DINGIN


A. Tentang Perang Dingin
Sisa-sisa Perang Dunia II memunculkan perang dingin berkepanjangan hampir setengah abad lamanya yang melibatkan banyak negara di dunia terpisah menjadi dua blok, yakni Blok Timur dan Blok Barat. Dibubarkannya Pakta Warsawa sebagai pakta pertahanan utama negara-negara Blok Timur dan diikuti dengan dibubarkannya pula Uni Soviet sebagai negara yang menjadi basis pertahanan terbesar bagi negara-negara Blok Timur menandakan akhir perang dingin di mana hampir memunculkan perang nuklir yang sangat mungkin akan dapat berakibat fatal terhadap kelangsungan hidup masyarakat dunia.
Perang dingin seakan mewariskan beberapa masalah internasional yang hingga kini belum juga dapat terselesaikan. Perang dingin juga memunculkan perang-perang kecil antar etnis, perebutan wilayah, dan berbagai permasalahan lainnya. Akan tetapi berakhirnya perang dingin juga membawa keadaan positif yang mana beberapa negara yang dulunya terkekang untuk berkembang tapi kini mendapat kebebasan dan keleluasaan untuk melakukan kegiatan politiknya dalam kehidupan negaranya. Berakhirnya perang dingin juga memunculkan harapan baru, yakni dunia yang damai dan tenteram tanpa merasakan khawatir tentang bahaya perang.


B. Akhir Masa Perang Dingin
Perang dingin membawa banyak dampak terhadap banyaknya negara-negara di dunia, baik itu negara yang terlibat langsung mau pun negara yang tidak terlibat langsung sekalipun. Perang dingin tersebut dinyatakan berakhir setelah pembubaran Uni Soviet pada akhir tahun 1991. Berakhirnya perang dingin memunculkan harapan baru bagi masyarakat dunia untuk mencapai perdamaian dunia tanpa mengalami lagi kekhawatiran atas bahaya perang. Adapun berbagai ketegangan dan konflik yang menjadi masalah internasional yang sampai hari ini terjadi sering dikaitkan dengan perang dingin yang pernah terjadi pada masa lalu.
     Istilah perang dingin yang pertama kali digunakan oleh George Orwell dalam artikelnya yang pernah dipublikasikan pada tahun 1945 untuk menjelaskan prediksinya tentang pergolakan dua atau tiga negara raksasa yang memiliki senjata nuklir, dan istilah ini menjadi sangat populer setelah digunakan oleh Bernard Baruch pada tahun 1947 untuk menjelaskan tentang ketegangan dunia yang terjadi akibat perlombaan senjata antara dua negara adikuasa saat itu, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Perang dingin yang berlangsung dari tahun 1947 dan berakhir seiring berakhirnya pula pemerintahan komunisme di Uni Soviet pada 25 Desember 1991 yang mana pada beberapa dekade sebelumnya negara-negara soviet mengalami politik ke arah liberal (lebih dikenal sebagai Glasnost dan Perestroika) yang dilakukan oleh Mikhail Gorbachev, pemimpin Uni Soviet saat itu.
Pakta Warsawa merupakan tonggak dasar kekuatan Blok Timur pada masa perang dingin. Akan tetapi pakta pertahanan ini berakhir pada 31 Maret 1991 dan diakhiri secara resmi pada 1 Juli 1991 di Praha, akibat ketidakpuasan dari masyarakat sipil dari negara-negara Blok Timur. Negara-negara yang dahulu berada di bawah naungan Pakta Warsawa pasca perang dingin mulai menentukan nasibnya masing-masing. Beberapa di antara mereka berpaling dari negara-negara timur lainnya dan malah bergabung dengan NATO. Sedangkan beberapa negara khususnya bekas pecahan Soviet bergabung pada Persemakmuran Negara-negara Merdeka (CIS).


C. Tampilnya Amerika Serikat sebagai Negara Adikuasa di Dunia
Pasca perang dingin di mana Uni Soviet yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi rival Amerika Serikat akhirnya runtuh juga. Maka Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara adidaya di dunia yang kuat dari segala hal baik itu militer, ekonomi, dan politiknya menyebabkan Amerika Serikat selalu berusaha tampil di depan dalam setiap permasa lahan internasional. 
Sejak perang dingin, Amerika Serikat selalu berusaha turut ikut campur dalam perseteruan negara lain, seperti di Korea, Vietnam, hingga di Perang Teluk di Timur Tengah yang terus berlanjut hingga sampai saat ini.

1. Perang Teluk di Timur Tengah
Bubarnya Uni Soviet membuat Amerika Serikat makin percaya diri dalam melakukan politik luar negerinya tanpa perlu terancam oleh lawan tangguhnya. Awal tahun 1991 adalah masa-masa terakhir dari kekuatan Uni Soviet di Blok Timur, yang berarti akhir dari masa perang dingin di dunia. Pada masa suasana timur tengah sedang memanas akibat invasi Irak ke Kuwait sejak 2 Agustus 1990 yang dipimpin Saddam Hussein. Setelah invasi tersebut, Dewan Keamanan PBB memberikan sanksi ekonomi terhadap Irak. Bersamaan dengan hal tersebut pihak PBB yang dipimpin Amerika Serikat mendatangkan bantuan pasukan melalui Arab Saudi. Selain itu juga, George H.W. Bush (Presiden  Amerika  Serikat  saat  itu)  mulai mendesak para sekutunya untuk membantu Kuwait. Arab Saudi, Inggris, dan Mesir yang juga didesak oleh Amerika Serikat pada akhirnya mengirim pula bantuan serta pasukan dalam jumlah besar. Bahkan dalam perang ini Arab Saudi sendiri menyumbang dana paling besar yakni $29 miliar dari total $82miliar.
Konflik awal dalam mengusir pasukan Irak ialah dengan melakukan pemboman udara pada tanggal 17 Januari 1991 dan kemudian diikuti oleh serangan darat pada tanggal 23 Februari ditahun yang sama. Kedua langkah tersebut adalah kunci kemenangan dari pasukan koalisi yang berujung pada gencatan senjata pada tanggal 28 Februari 1991.
Dalam perang ini tidak ada data resmi berapa jumlah pasukan yang ada di wilayah perang. Akan tetapi dari beberapa sumber mengatakan bahwa ada lebih dari 700.000 pasukan koalisi dan 540.000 diantaranya adalah pasukan dari Amerika Serikat. Selain itu, pasukan Amerika Serikat yang gugur sendiri mencapa 100 ribu jiwa. Sedangkan dari pihak Irak hanya 60 ribu jiwa.
Penyebab dari perang ini sebenarnya berdasarkan dugaan Irak bahwa Kuwait mengontrol turunnya harga minyak dunia sehingga menyebabkan perekonomian Irak terpuruk. Tapi tentang Amerika Serikat yang sengaja membantu Kuwait didugaan dengan alasan ekonomi-politik di mana pihak manapun pun telah menyadari bahwa Irak adalah salah satu penghasil minyak terbesar di dunia dan Amerika Serikat ingin menguasainya. 
Setelah perang ini berakhir, banyak sekali dampak serta akibat yang terjadi khususnya wilayah Timur Tengah. Perang Teluk merupakan sebuah awal di mana Amerika Serikat dapat menunjukkan taringnya di wilayah Timur Tengah dengan segala kekuatannya yang dimiliki sebagai negara adidaya di dunia.

2.  September Hitam 2001
Pada 11 September 2001 lalu di World Trade Centre, Amerika Serikat, telah memakan banyak korban jiwa, dan kemudian peristiwa tersebut dituduhkan pada jaringan teroris Al-Qaeda. Rincian peristiwanya adalah sebegai berikut. Dimulai saat dini hari di tanggal 11 September 2001, para pembajak yang berjumlah 19 orang dan diduga berasal dari kelompok Al-Qaeda membajak 4 pesawat terbang komersial. Pesawat terbang pertama adalah United Airlines 175 dan 11 yang berangkat dari Boston dibajak dan diterbangkan menuju New York, selanjutnya adalah America Airlines 93 dan 77 yang dibajak. Pada saat jam  08.46 waktu  setempat,  America  Airlines  11 dihantamkan ke menara Utara WTC dan selanjutnya adalah   menara   selatan   WTC   dengan   America  Airlines 175. Dua pesawat lainnya yaitu America Airlines 77 berusaha menabrak Pentagon dan America Airlines 93 jatuh di kawasan hutan Pennsylvania setelah para penumpang melawan para pembajak. Menurut Amerika Serikat, alasan pihakAl-Qaeda melakukan penyerangan tersebutkarena mereka tidak suka dengan kebijakan Amerika Serikat menyangkut Israel yang secara langsung merugikan umat muslim. Banyak sekali korban yang jatuh dalam kejadian ini dan menurut data yang ada hanya 1600-an jenazah yang bisa diidentifikasi. Atas kejadian tersebut, banyak sekali masyarakat dunia yang mencibir Islam karena aksi yang dilakukan Al-Qaeda sehingga terjadi banyak tindakan kekerasan dan diskriminasi terhadap warga muslim di dunia.

3. Perjuangan Memerangi Terorisme
Dengan dalih memerangi terorisme, Amerika Serikat mulai menyerang bumi Afghanistan. Alasan AS melakukan invasi ke Afghanistan adalah untuk membalas tragedi September Hitam  pada 2001 yang dituduhkan telah dilakukan oleh Al Qaeda dan mereka pun percaya bahwa basis Al-Qaeda berada di Afghanistan, sehingga mereka merasa perlu untuk menumpas habis kelompok teroris-teroris tersebut langsung ke Afghanistan.
Penyerangan ke Afghanistan yang dimulai pada tanggal 7 oktober 2001 ini dinama operasi Enduring freedom. Tujuan dari operasi ini adalah untuk menangkap Osama Bin Laden yang diduga pemimpin Al Qaeda serta para kaki tangannya. Dan dalam hitungan minggu, pasukan Amerika Serikat dengan dibantu pasukan dari Inggris telah mampu menggulingkan kekuasaan kelompok Taliban di kota Kabul. Beberapa akibat dari invasi ini adalah tidak adanya pemerintahan resmi milik rakyat Afghanistan. Pada tahun 2004 Amerika Serikat mendirikan pemerintahan sementara untuk Afghanistan yang dipimpin oleh Hamid Karzai. Hingga hari ini, pihak Amerika Serikat dan Inggris masih beradu kekuatan dengan pasukan Taliban di Afghanistan untuk memperebutkan wilayah kekuasaan.

4. Invasi Amerika Serikat ke Irak
Belum lama penyerangan Amerika Serikat ke Afghanistan, pada tanggal 20 Maret 2003, Amerika Serikat menyertakan Inggris, Australia dan Polandia secara sepihak mulai menyerang Irak untuk meruntuhkan rezim Saddam Hussein dengan alasan bahwa kebijakan politik Irak dapat mengancam keamanan dunia di mana Irak dituduh telah membuat senjata rahasia pemusnah masal berbahan dasar biokimia yang berbahaya, yang hingga akhir ini senjata yang dituduhkan Amerika Serikat atas Irak itu tidak terbukti keberadaannya. Pada 1 April 2003 pun akhirnya Baghdad pun jatuh ke tangan Amerika Serikat. Puncaknya adalah saat Saddam Husein berhasil ditangkap pasukan Amerika Serikat di Tikrit pada tanggal 5 November 2006. dan Saddam pun dieksekusi mati pada tanggal 30 Desember di tahun yang sama.
Ketika pemerintah Amerika Serikat diminta oleh banyak pihak untuk menarik pasukannya dari Irak, Presiden Bush saat itu yang memimpin komando atas invasi ke Irak tersebut malah menjawab bahwa jika pasukan Amerika Serikat ditarik kembali maka akan memungkinkan perang antara kaum ekstrim Syiah sokongan Iran dengan kaum ekstrim Suni dukungan Al-Qaeda. Padahal jelas-jelas terlihat bahwa dengan membiarkan pasukan Amerika Serikat di Irak tersebut tak lain demi kepentingan politik untuk menguasai kerajaan minyak dunia.6 


D. Kebangkitan Rusia Pasca Komunisme
Rusia merupakan negara pewaris utama peninggalan Uni Soviet. Setelah dibubarkannya Uni Soviet oleh Mikhail Gorbachev pada 25 Desember 1991, Rusia mengalami kemelut politik yang mendasar terutama tentang nasib bangsa yang besar ini. Selama pemerintahan Boris Yeltsin, yaitu pemimpin Rusia setelah Mikhail Gorbachev, hingga 1993 Rusia masih mencari jalan mana yang akan dipilih untuk dijadikan acuan ke depannya, apakah kembali pada sistem imperium Rusia seperti masa lalu, atau melaksanakan sistem sosialisme soviet, atau malah menggunakan demokrasi barat. Demokrasi sebagai landasan dalam perestroika memaksa bangsa Rusia sendirilah yang patut memilih jalannya. Meski secara de jure partai komunis pasca Uni Soviet masih eksis, akan tetapi dari hasill pemilihan umum yang kemudian dilakukan, partai komunis di Rusia selalu kalah baik pada saat pemilihan yang dimenangkan Boris Yeltsin maupun ketika pemilihan yang dimenangkan Vladimir Putin sebagai penerus upaya reformasi yang dikedepankan Boris Yeltsin.
Rusia yang telah mengalami krisis ekonomi yang parah pada awal pemerintahan Boris Yeltsin bersamaan dengan diproklamirkannya RSFSR (Republik Sosialis Federasi Soviet Rusia) sejak 12 Juni 1990 mengakibatkan banyak pengangguran di mana-mana. Boris Yeltsin berupaya keras untuk melakukan reformasi di dalam perkembangan Rusia yang di kemudian hari tanpa Uni Soviet. Akan tetapi puncak reformasi di Rusia mulai terasa ketika Rusia berada di bawah pemerintahan Vladimir Putin. Selama dua dekade menjabat sebagai presiden,  Putin   telah membawa   kembali   Rusia   menuju   kebangkitannya.  Rusia  yang dahulunya memiliki banyak hutang kini telah terbayar, bahkan telah memupuk kembali cadangan devisa di negara tersebut. 
Tak hanya di bidang ekonomi, di bawah Vladimir Putin bidang religi di Rusia pun berkembang pesat dan dapat dirasakan bahwa Rusia di bawah Uni Soviet sangat kering akan nafas religius, tapi Federasi Rusia kini bahkan membantu meningkatkan ruh-ruh keagamaan di masyarakat Rusia. Penduduk Rusia yang mayoritas beragama kristen ortodoks dan Islam kini mulai membangun kembali gereja-gereja dan masjid-masjid mereka yang telah rusak atau digunakan tidak sesuai fungsinya ketika rezim Uni Soviet berkuasa. Pada akhirnya mereka dapat kembali melaksanakan kegiatan keagamaannya tanpa harus sembunyi-sembunyi, bahkan lebih dari itu, mereka juga diperbolehkan untuk mengadakan tokoh-tokoh beragama untuk serta dalam kegiatan politik.
Atas reformasi di segala bidang tersebut, Rusia mulai mencoba kembali mengangkat kejayaan negeri layaknya Uni Soviet dahulu. Penguatan di bidang ekonominya juga diperkuat dengan militer yang telah banyak dimiliki warisan dari Uni Soviet terdahulu menjadikan Rusia memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara adidaya menyaingi Amerika Serikat. Dalam bidang politik internasionalnya di sekitar wilayahnya, Rusia bersama negara-negara pecahan Uni Soviet lainnya bergabung dalam CIS atau SNG (Sodruzhestvo Nezasimikh Gosudarstv) atau mudahnya yakni “Persemakmuran Negara-negara Merdeka” yang memungkinkan Rusia mendapat dukungan kuat dari negara-negara bekas Uni Soviet di sekitarnya dalam melaksanakan politiknya.


E. Kebangkitan Asia: Kekuatan-Kekuatan Baru di Dunia
Setelah beberapa tahun berlalu, perang dingin menyisakan beberapa masalah baru di dunia, baik itu krisis ekonomi sampai krisis politik. Adapun negara-negara lain yang tidak terlibat langsung dengan berbagai konflik pada saat perang dingin memanfaatkan peluang dan potensi yang dimiliki untuk menyusun kekuatan baru seoptimal mungkin.
Jepang, sejak kekalahannya pada Perang Dunia II seakan berangkat dari titik nol untuk menjadi negara maju seperti sedia kala. Pasca pemboman yang dilakukan Amerika Serikat di dua kota pentingnya, yakni Hiroshima dan Nagasaki, seakan Jepang tak ingin lagi terlibat konflik militer internasional yang pelik, kecuali tentang keamanan di sekitar dan perebutan wilayah yang sejak awal memang telah jadi masalah sejak awal. Jepang berusaha memperbaiki kondisi ekonominya dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan kemajuan teknologi di negerinya. Dengan  teknologi  yang  berkembang  dengan  sangat cepat, maka dalam beberapa puluh tahun saja 
Jepang telah dikenal kembali di mata dunia sebagai negara yang maju bahkan menjadi negara superior di wilayah Asia.
     Lain halnya dengan Jepang, lima puluh tahun pasca perang dengan saudaranya, yakni Korea Utara di masa perang dingin, Korea Selatan yang didukung Amerika Serikat mulai bangkit dan selalu membayang-bayangi Jepang dalam hal kemajuan teknologi dan peningkatan kegiatan ekonominya. Kemajuan Korea Selatan ini dapat dilihat dari banyaknya cabang perusahaan-perusahaan Korea Selatan yang didirikan di berbagai negara, mengakibatkan Korea Selatan dengan mudah mendapat perhatian dunia. 
Dua negara yang telah dijelaskan di atas hanya sebagian saja. Tapi pada kenyataannya, dengan berakhirnya perang dingin ini, kekuatan-kekuatan baru di dunia baik dalam bidang ekonomi, politik, bahkan militer mulai berkembang di negara-negara tertentu, khususnya negara-negara di Asia. Tak hanya Jepang dan Korea, di negara-negara Asia pun mulai bermunculan negara yang kini telah maju, seperti Singapura yang sangat maju dan sangat dominan terhadap perekonomian di Asia Tenggara, Cina dan Taiwan yang sangat kuat sisi perekonomian di negaranya, India dan Iran yang memiliki teknologi nuklir yang berpotensi meningkatkan laju perkembangan ekonomi dan militer di negaranya, dan lan sebagainya. Bahkan Cina kini dianggap sebagai kekuatan terbesar di Asia bahkan dunia, yang mana memiliki cadangan devisa negara terbanyak di dunia serta memiliki kekuatan militer yang sangat kuat.

F. Kemajuan Iptek Dunia: Warisan Perang Dingin
Perang dingin selain memacu kedua blok memperkaya kekuatan militernya juga memacu Uni Soviet dan Amerika Serikat untuk berlomba juga dalam mengedepankan teknologi antariksanya. Dan setelah akhir masa perang dingin, selain kedua negara tersebut di atas, kemajuan teknologi antariksa juga mulai disusul oleh negara-negara lainnya di dunia.
     Pada akhir masa perang dingin pemimpin Cina telah berusaha untuk meningkatkan teknologi pesawat antariksa untuk meningkatkan semangat nasional negaranya. Uni Soviet yang waktu itu menjadi partnernya sejak masa perang dingin di kemudian hari dilanjutkan dengan Rusia sebagai partnernya. Pada 1996 adalah masa di mana tahap perancangan pesawat tersebut dan astronot Cina sudah dilatih di Pusat Pelatihan Kosmonot Yuri Gagarin di Rusia. Dan pada 1998 pengembangan peluncur pesawat luar angkasa model baru CZ-2F sebagai pesawat luar angkasa dan pembangunan Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan telah diselesaikan. Pada 1999, Cina telah berhasil meluncurkan  pesawat  tak  berawaknya,  dan  dilanjutkan  dengan misi-misi selanjutnya pada bulan Maret dan Desember 2002, pada Oktober 2003, dan pada Oktober 2005.12
     Fakta fakta di atas dapat kita pahami bahwa perang dingin sangat berpengaruh terhadap kemajuan teknologi di dunia dan salah satunya adalah Cina. Peluncuran pesawat-pesawat antariksa yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet membuat sebuah fenomena yang baru di bumi ini, sampai kedua negara superpower tersebut berlomba-lomba menampilkan keunggulan teknologi antariksanya. Hal ini tidaklah berlebih-lebihan karena justru banyak membawa manfaat baik bagi dunia karena bisa mengeksplorasi dunia baru - luar angkasa. Dalam hal ini Cina yang perekonomiannya sangat stabil kini telah bangkit dan siap menjadi negara superpower selanjutnya dan disusul pula dengan negara-negara lainnya.


G. Kesimpulan
Perang dingin merupakan sebutan bagi ketegangan dunia pasca Perang Dunia II yang diikuti perang-perang regional di tempat tertentu yang mana melibatkan dua kekuatan besar dunia antara Blok Timur yang didukung Uni Soviet dengan Blok Barat yang didukung Amerika Serikat. Perang dingin berakhir setelah Uni Soviet dibubarkan. Berakhirnya perang dingin berarti berakhir pula ketegangan antara Uni Soviet dengan Amerika Serikat. Dunia baru yang diharapkan untuk dapat hidup lebih nyaman tanpa ketegangan akibat kekhawatiran akan terjadi perang, ternyata tidak dinikmati oleh setiap negara. Beberapa negara masih mengalami konflik dan ketidakpastian dalam menjalankan kehidupan bernegaranya. Bahkan setelah Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adidaya yang tanpa tandingan, bertindak semena-mena tanpa mendapat sanksi yang nyata dari PBB yang dikuasai Amerika Serikat sendiri atas kebijakan politik luar negerinya yang mana beberapa di antaranya yakni melakukan invasi ke berbagai tempat di dunia demi keuntungan politik dan ekonominya. Rusia sebagai pewaris utama Uni Soviet berusaha bangkit dari berbagai macam krisis di negaranya setelah Uni Soviet dibubarkan. Di bawah pemerintahan Vladimir Putin, Rusia melakukan reformasi di berbagai bidang dan hingga kini Rusia seakan berusaha terus meraih kembali kekuatan yang dahulu pernah dimiliki Uni Soviet. Berakhirnya perang dingin juga memberi peluang besar bagi negara lainnya untuk berkembang dan memajukan negaranya masing-masing. Negara-negara di Asia mulai berusaha untuk maju dan bersaing khususnya di bidang teknologi dan ekonominya. Beberapa negara Asia, terutama Cina mulai menjadi negara super yang mungkin akan menjadi tandingan negara kuat seperti Amerika Serikat. Pada masa perang dingin di mana kedua negara baik Uni Soviet maupun Amerika serikat, selain berlomba-lomba dalam meningkatkan kekuatan militer, ekonomi, dan politiknya, mereka juga berusaha untuk meningkatkan teknologi di nengaranya. Salah satunya adalah perkembangan teknologi antariksa dengan cepat pada masa perang dingin membuat teknologi tersebut menjadi sangat berguna bagi manusia sampai saat ini. Pada akhirnya dapat diketahui bahwa perang dingin memberikan selain memberikan dampak buruk, ternyata juga memberi dampak baik terhadap perkembangan dunia.




Daftar Pustaka

Fachrurodji, A. 2005. Rusia Baru menuju Demokrasi. Jakarta: Yayasan Obor.

Hamied, Dachlan Abdul. 2010. Harga Demokrasi antara Baghdad dan Jakarta. Jakarta: LASPI & Centralis Press.

Himawan. 2009. Panduan Lengkap Belajar Bahasa Korea. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

The New Fontana Dictionary of Modern Thought, edisi ketiga. 1999.




Sumber dari Internet:

Toruan, Denis L. Perkembangan Program Antariksa Cina  Pasca Perang Dingin. http://www.scribd.com/doc/3293066/Perkembangan-Program-Antariksa-China-Pasca-Perang-Dingin. Diakses pada 23 Februari 2011, pukul 07.22 WIB.

http://bbc.co.uk/2/hi/middle_east/country_profiles_737483.htm; diakses pada 22 Februari 2011, pukul 01.24 WIB

http://www.britannica.com/EBchecked/topic/614785/Union-of-Soviet-Socialist-Republics diakses pada 22 Februari 2011, pukul 16.31 WIB.

http://www.britannica.com/EBchecked/topic/125110/Cold-War; diakses pada 22 Februari 2011, pukul 16.56 WIB

http://e-r.info/?p=4334; diakses pada 22 Februari 2011, pukul 01.12 WIB

http://historyguy.com/gulfwar2.html; diakses pada 22 Februari 2011, pukul 01.41 WIB

http://ohiohistory.central.org/entry.php?rec=1617; diakses pada 22 Februari 2011, pukul 01.16 WIB

http://qitori.wordpress.com/2007//australia_akui_ada_minyak_dibalik_invasi_irak; diakses pada 22 Februari 2011, pukul 01.03 WIB 



Keterangan: Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah "Sejarah Dunia" di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (2011). Tim penyusun tulisan: Donny Oktaviano, Maulana Yodha Permana, Tikas Wahyu Haryono

0 komentar:

Poskan Komentar

Tes Pesan Formulir Komentar